Lokasi Geografis

109°17'30" - 109°40'30" BT dan 6°52'30" - 7°20'11" LS

Minggu, 15 Januari 2017

SURVEI PENDAHULUAN GUNA MENJADI BAHAN PENYULUHAN KESELAMATAN JALAN

SURVEI PENDAHULUAN GUNA MENJADI BAHAN
PENYULUHAN KESELAMATAN JALAN

Survei pendahuluan merupakan hal yang harus dilakukan pada saat akan melakukan rancangan kampanye keselamatan. Seperti yang dilakukan oleh Taruna PKTJ yang melakukan survei pendahuluan di simpang kardinah untuk mengetahui pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat khususnya di kota tegal yang melewati simpang tersebut. Simpang kardinah merupakan titik pertemuan arus dari Kota Tegal dan Kabupaten Tegal. Survei dilakukan pada jam 06.30 – 08.00 WIB dengan mantau dan mencatat pelanggaran yang dilakukan masyarakat di simpang tersebut. Anggota survei sendiri merupakan taruna Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan kelas MKTJ A. anggota kelas di bagi kedalam 4 (empat) kelompok, dan masing-masing kelompok bertugas dalam 1 kaki simpang.


   Gambar 1 Lokasi survei
Berikut merupakan data-data hasil survei pendahuluan yang telah dilakukan :


Gambar 2 Prosentase pelanggaran berdasarkan usia

Dari hasil survei pendahuluan perilaku pengguna jalan yang dilakukan di simpang kardinah Kota Tegal, menyatakan bahwa pelanggar berusia 36 – 45 merupakan terbanyak melakukan pelanggaraan, usia 46 – 55 tahun menyusul di tempat kedua sebagai usia paling banyak melakukan pelanggaraan yang menyatakan bahwa banyak pelanggaran, usia 26 – 35 tahun usia paling banyak melakukan pelanggaran lalu lintas ketiga. Untuk usia anak sekolah yaitu 5 – 11 tahun, 12 – 16 tahun, 17 – 25 tahun masing-masing prosentase pelanggaran yaitu 0%, 5% dan 6%. Pada usia 26 – 55 tahun banyak melakukan pelanggaraan lalu lintas, padahal pada usia tersebut sudah memiliki anak dan anaknya tersebut akan cenderung melakukan tindakan sesuai dengan perilaku orang tuannya, apabila anak tersebut berlalu lintas bersama orang tuanya, dan orang tuannya tersebut melakukan pelanggaran lalu lintas, kemungkinan besar anak tersebut juga akan mengikuti orang tuannya. Pada usia sekolah sudah mulai melanggar aturan lalu lintas, dikhawatirkan pelanggaran tersebut akan terus dilakukan.



Gambar 3 Jenis pelanggaran lalu lintas

Dari hasil survei pendahuluan perilaku pengguna jalan yang dilakukan di simpang kardinah Kota Tegal, pelanggaran yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat kota Tegal di simpang kardinah adalah melanggar marka utuh, penggunaan helm dan sabuk keselamatan. Marka merupakan suatu petunjuk bagi pengguna jalan dan biasanya merupakan penjelas bagi rambu yang ada disekitarnya, dikhawatirkan masyarakat belum mengetahui tantang rambu sehingga mereka juga belum mengeti tentang guna marka. Penggunaan perlengkapan keselamatan untuk berkendara juga masih kurang diperhatikan oleh masyarakat, terlebih untuk penggunaan sabuk keselamatan dan penggunaan helm

IDENTIFIKASI PROFIL SASARAN DAN TUJUAN PENYULUHAN KESELAMATAN

A.      Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Sekolah menengah pertama atau disingkat SMP adalah jenjang pendidikan anak usia pra-remaja (yakni usia 12 tahun atau lebih) dalam bentuk pendidikan formal. Kurikulum SMP ditekankan pada pemberian pendidikan lebih dalam dari sebelumnya yaitu SMP untuk memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Lama masa belajar seorang murid di SMP umunya 3 tahun. Secara umum untuk lulus dari tingkat program di SMP selama 3 (tiga) tahun, yaitu:
1.        SMP kelas 7 selama 1 (satu) tahun;
2.        SMP kelas 8 selama 1 (satu) tahun; dan
3.        SMP kelas 9 selama 1 (satu) tahun.
Umur rata-rata minimal pra-remaja belajar di sebuah Sekolah menengah pertama berkisar 12-14 tahun sedangkan umur rata-rata untuk lulus dari SMP berkisar 14-15 tahun. Setelah lulus dari SMP, atau pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah lainnya yang sederajat, murid kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi di atasnya, yaitu Sekolah Menengah Atas atau yang sederajat. Di Indonesia, seseorang  diwajibkan untuk menempuh pendidikan di SMP.
Tujuan diselenggarakannya pendidikan di SMP adalah membantu anak didik agar dapat mengenal dirinya dan lingkungan terdekatnya sehingga dapat menyesuaikan diri melalui tahap peralihan dari kehidupan di sekolah dasar ke kehidupan di sekolah menengah atas danmasyarakat sekitar anak. Dalam proses peralihan ini, anak perlu memiliki berbagai kemampuan agar anak dapat beradaptasi dan berkembang secara optimal ketika memasuki lingkungan sekolah yang lebih tinggiatau masyarakat.



B. Tujuan Penyuluhan
Secara umum pemberian penyuluhan ini bermaksud sebagai salah satu pemenuhan tugas mata kuliah disisi lain juga bisa sebagai sarana untuk menanamkan pendidikan berkeselamatan pada anak SMP atau usia Remaja. Secara khusus kegiatan penyuluhan ini bertujuan untuk :
1.        Menanamkan perilaku berkeselamatan pada anak usia remaja setara Sekolah Menengah Pertama khususnya penggunaan helm supaya lebih berhati-hati dalam berlalu-lintas di jalan; dan

2.        Mengurangi pelanggaraan lalu lintas berupa membonceng tanpa memakai helm.

PENYULUHAN KESELAMATAN TRANSPORTASI JALAN

PENYULUHAN KESELAMATAN TRANSPORTASI JALAN

                       A.    DASAR HUKUM
1.      UU Nomor 22 Tahun 2009 Tentang LLAJ (Pasal 203: menyusun Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK) Jalan
2.      Instruksi Presiden RI Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan
·         Pilar 1: Manajemen Keselamatan Jalan
·         Pilar 2: Jalan yang Berkeselamatan
·         Pilar 3: Kendaraan yang Berkeselamatan
·         Pilar 4: Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan
·         Pilar 5: Penanganan Pra dan Pasca Kecelakaan
3.      Pilar 4
·         Koordinator Kapolri
·         Tanggung jawab memperbaiki perilaku pengguna jalan melalui pendidikan keselamatan berlalu lintas, meningkatkan kualitas sistem uji surat izin mengemudi dan penegakan hukum di jalan serta mengembangkan sistem pendataan kecelakaan lalu
·         Kementerian terkait:
1.      Kementerian Perhubungan
2.      Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
3.      Kementerian Kesehatan
4.      Kementerian Dalam Negeri
5.      Pemprov dan Pemkab/Kota
  
                    B.     PENYULUHAN KESELAMATAN TRANSPORTASI JALAN
Suatu proses untuk meningkatkan keselamatan jalan melalui kegiatan pendidikan (non formal) berkeselamatan bagi operator serta pemahaman keselamatan bagi masyarakat.
Pendidikan keselamatan bagi operator ditujukan untuk membekali pengetahuan dan ketrampilan tentang standar dan prosedur keselamatan serta merubah perilakunya untuk peduli terhadap keselamatan transportasi jalan.
Penyuluhan Keselamatan Transportasi Jalan
·         Operator: kesadaran, pengetahuan dan ketrampilan tentang standar dan prosedur keselamatan
·         Regulator, penyedia jasa transportasi, tenaga kerja di bidang transportasi
·         Masyarakat: kesadaran, pengetahuan, dan kemauan untuk berperan aktif
·         Proses-proses penyuluhan keselamatan jalan :
Ø  Proses komunikasi persuasif oleh penyuluh
Ø  Proses pemberdayaan sasaran penyuluhan
Ø  Proses komunikasi timbal balik antara penyuluh dan sasaran penyuluhan

C.    TAHAPAN PENYULUHAN
·         Tahap penumbuhan perhatian: mengetahui adanya gagasan/ide atau praktek baru untuk pertama kalinya
·         Tahap penumbuhan minat: ingin mengetahui lebih banyak dan berusaha mencari informasi lebih lanjut.
·         Tahap menilai: mampu membuat perbandingan.
·         Tahap mencoba: mencoba gagasan baru atau praktek baru.
·         Tahap menerapkan: meyakini dan menerapkan sepenuhnya secara berkelanjutan.

 D.    PENYUSUNAN PROGRAM PENYULUHAN
·         Perumusan keadaan: penggambaran fakta berupa data dan informasi
·         Penetapan tujuan: perumusan keadaan yang hendak dicapai
SMART, yaitu specific (khas); measurable (dapat diukur); actionary (dapat dikerjakan/dilakukan); realistic (realistis); dan time frame (memiliki batasan waktu untuk mencapai tujuan)
·    Penetapan masalah: perumusan faktor-faktor yang dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan
Ø  Penetapan rencana kegiatan: merumuskan cara mencapai tujuan
Ø  Tingkat kemampuan sasaran penyuluhan
Ø  Ketersediaan teknologi/inovasi, sarana dan prasarana
Ø  Tingkat kemampuan penyuluh
Ø  Situasi lingkungan fisik, sosial dan budaya yang ada
Ø  Alokasi pembiayaan

                        E.     MATERI PENYULUHAN
    1. Pesan yang akan disampaikan penyuluh kepada sasaran penyuluhan
    2. Berupa pesan kognitif, afektif, psikomotorik maupun kreatif
    3. Bersifat menganjurkan, melarang, memberitahu, maupun menghibur
d.      S-Prinsip 7 C
·         Credibility: pesan dapat diyakini kebenarannya
·         Contex: berkaitan dengan masalah keselamatan di wilayahnya
·         Content: isinya memiliki arti bagi penerima pesan
·         Clarity: jelas susunan bahasa, gambar dan simbol
·         Continuity and consistency: berkelanjutan dan konsisten dalam menyampaikan pesan
·         Channels: saluran media komunikasi yang sesuai penerima
·         Capability of audience: sesuai dengan kemampuan penerima pesan

 F.     METODE PENYULUHAN
1.      Berdasarkan teknik komunikasi yang digunakan:
a.       Metode penyuluhan langsung
·         Tatap muka antara penyuluh dan sasaran penyuluhan (demonstrasi, kursus, diskusi, dll)
b.      Metode penyuluhan tidak langsung
·         Dilakukan melalui perantara/media komunikasi (pemasangan poster, penyebaran brosur/leaflet/majalah, siaran radio, siaran televisi, pemutaran film, dll)
2.      Berdasarkan jumlah sasaran
a.       Pendekatan perorangan
·         Langsung antara penyuluh dengan orang per orang
    1. Pendekatan kelompok
·         Antara penyuluh dengan sekelompok orang (diskusi, kursus, serasehan, dll)
    1. Pendekatan massal
·         Dilakukan antara lain dengan cara siaran radio, siaran televisi, pemasangan poster/spanduk, kampanye, dll
3.      Berdasarkan indera penerima sasaran
a.       Indera penglihatan
·         Melalui pemasangan poster/spanduk, penyebaran brosur/leaflet/majalah, dll.
b.      Indera pendengaran
·         Melalui indera pendengaran, antara lain melalui siaran radio, iklan radio, dll.
c.       Kombinasi indera penerima
·         Melalui demonstrasi cara/hasil, pemutaran film, siaran televisi, dll.
4.      Metode-metode lain
a.       Metode dengan pendekatan massal: menarik perhatian, menumbuhkan minat dan keinginan, serta memberikan informasi selanjutnya.
b.      Metode dengan pendekatan kelompok: memberikan informasi yang lebih rinci tentang suatu teknologi atau praktek. Metode ini ditujukan untuk dapat membantu seseorang dari tahap menginginkan ke tahap mencoba atau sampai tahap menerapkan.
c.       Metode dengan pendekatan perorangan: dalam tahap mencoba hingga menerapkan, karena adanya hubungan tatap muka antara penyuluh dan sasaran yang lebih akrab


5.      Ceramah
·         Penyampaian materi tanpa banyak partisipasi dalam bentuk pertanyaan atau diskusi
·         (+) Kelas mudah dikuasai; mudah dilaksanakan; dapat diikuti peserta dalam jumlah besar
·         (-) Bersifat verbal; peserta cenderung bosan; sangat tergantung pada kemampuan penceramah
6.      Demonstrasi
·         Memperlihatkan secara nyata tentang cara dan/atau hasil terkait sesuatu hal
·         (+) Pemahaman peserta mengenai materi lebih dalam
·         (-) Memakan waktu lama; sumber daya yang dibutuhkan relatif besar
7.      Kursus/pelatihan
·         Proses belajar mengajar yang diselenggarakan secara sistematis dan dalam jangka waktu tertentu
·         (+) Efektif untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan secara mendalam dan sistematis; alumni dapat dipakai sebagai kader bagi kelompoknya
·         (-) Relatif mahal serta memerlukan persiapan dan pelaksanaan yang cermat; kurangnya sarana dan alat bantu pengajaran sering mengganggu tercapainya tujuan; menjangkau relatif sedikit peserta
8.      Pameran
·         Usaha memperlihatkan atau mempertunjukkan model, contoh, barang, peta, grafik, gambar, poster, benda hidup dan sebagainya secara sistematis pada suatu tempat tertentu
·         (+) Jangkauan sasaran lebih luas; mempunyai efek publisitas
·         (-) Memerlukan banyak persiapan dan biaya; harus berganti tema; tema tertentu; memerlukan penjaga yang benar-benar menguasai masalah
9.      Pemberian penghargaan
·         Kegiatan sebagai tanda ucapan terima kasih/penghargaan kepada individu/instansi atas jasa-jasa/prestasinya khususnya dalam kurun waktu tertentu.
·         (+) Merangsang peserta untuk meningkatkan prestasi; mengefektifkan kegiatan; memberikan pengaruh yang luas dan melibatkan lembaga/badan lain
·         (-) Membutuhkan biaya tambahan pelaksanaan; hanya melibatkan beberapa orang peserta
10.  Pemutaran film
·         Metode penyuluhan dengan menggunakan alat film yang bersifat visual dan massal, serta menggambarkan proses sesuatu kegiatan.
·         (+) Lebih menarik; sekaligus sebagai hiburan; jangkauannya lebih luas
·         (-) Tidak terdapat komunikasi dua arah; biaya tinggi
11.  Penempelan poster
·         Metode penyuluhan yang menggunakan gambar dan sedikit kata-kata yang dicetak pada sehelai kertas/bahan lain yang berukuran tidak kurang dari 45 cm x 60 cm, dan ditempelkan pada tempat-tempat yang sering dilalui orang atau yang sering digunakan sebagai tempat orang berkumpul
·         (+) Jangkauan sasaran lebih luas
·         (-) Pesan kurang lengkap; bila dibuat dari kertas akan mudah rusak, sedangkan bila dibuat dari bahan tahan lama biayanya mahal
12.  Penyebaran brosur, leaflet, & majalah
·         Menggunakan brosur, folder, leaflet dan majalah yang dibagikan kepada masyarakat pada saat tertentu.
·         (+) Materi lebih lengkap dan jelas serta lebih khusus pada materi tertentu; dapat melengkapi metode penyuluhan yang lain; dapat memberikan kesempatan pihak lain untuk berpartisipasi (khusus untuk majalah).
·         (-) Bahasa harus menyesuaikan dengan bahasa komunikasi kelompok sasaran; kontinuitasnya tidak dapat terjamin terutama faktor judul, materi, biaya dan keterpaduan dengan metode lainnya

G.    MEDIA PENYULUHAN
Kata media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium, yang berarti perantara atau pengantar. Dalam penyuluhan media berperan sebagai saluran komunikasi dan media belajar.
1.      Media penyuluhan tercetak
Bentuk
Foto, poster, leaflet, diagram,grafik, brosur, majalah, buku.
Kelebihan

Relatif tahan lama, dapat dibaca berulang-ulang, dapat digunakan sesuai kecepatan belajar masing-masing orang, mudah dibawa.
Kelemahan

Proses penyampaian informasi sampai pencetakan butuh waktu relatif lama, sukar menampilkan gerak, membutuhkan tingkat literasi yang memadai, cenderung membosankan bila padat dan panjang.

2.      Media penyuluhan audio
Bentuk
Kaset CD, DVD, MP3, MP4 audio
Kelebihan

Informasi dikemas sudah tetap, terpatri dan tetap sama jika direproduksi, produksi dan reproduksinya tergolong ekonomis dan mudah didistribusikan
Kelemahan

Bila terlalu lama akan membosankan, perbaikan atau merevisi harus memproduksi master baru

3.      Media penyuluhan audiovisual
Bentuk
Film, iklan televisi, presentasi interaktif
Kelebihan

Dapat memberikan gambaran yang lebih konkrit, baik dari unsur gambar maupun geraknya, lebih atraktif dan komunikatif
Kelemahan

Biaya produksi relatif mahal, produksi memerlukan waktu

4.      Media penyuluhan berupa obyek fisik/benda nyata
Bentuk
Benda sesungguhnya, model, maket, simulasi
Kelebihan

Dapat menunjukkan lingkungan belajar yang amat mirip dengan lingkungan belajar yang sebenarnya, memberikan simulasi terhadap banyak indera, dapat digunakan sebagai liatihan kerja, latihan menggunakan alat bantu dan atau simulasi
Kelemahan

Relatif mahal


5.      Media penyuluhan luar ruang
Bentuk
Papan reklame, spanduk, pameran, banner dan televisi layar lebar
Kelebihan

lebih mudah dipahami, lebih menarik, sebagai informasi umum dan hiburan, bertatap muka, mengikut sertakan seluruh panca indera, penyajian dapat dikendalikan dan jangkauannya relatif besar
Kelemahan

Biaya lebih tinggi dan proses pembuatannya lebih rumit

                   H.    PENYULUHAN EFEKTIF
·         Perubahan
·         Pengetahuan
·         Sikap

·         Keterampilan